Selasa, 03 Juli 2012

Home  Perjalanan Menebak Misteri Kedalaman Danau
Kamis, 6 November 2008 | 12:31:55
Menebak Misteri Kedalaman Danau Linting

Sungguh, saya baru mendengar nama danau ini beberapa hari lalu. Itu pun secara tidak sengaja ketika berbincang-bincang dengan Pak Soekirman, Wakil Bupati Sergai, di rumahnya. “Saya pun baru melihatnya lewat foto. Belum pernah ke sana. Tapi indah sekali kelihatannya,” katanya. Kami lantas mengubernya. Inilah Danau Linting, sebuah keajaiban di puncak bukit kecil di desa Sibunga-bunga Hilir, Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Dari kota Medan, kami menempuh perjalanan selama 1 jam 45 menit, melewati Simpang Terminal Amplas, Patumbak, desa Talun Kenas, desa Siguci, desa Kuta Jurung, hingga akhirnya sampai ke bibir desa Sibunga-bunga Hilir. Rute antar desa ini cukup menyenangkan karena saya mendapatkan beberapa hal baru. Pemandangan pertama adalah panorama perkebunan PTPN II Patumbak yang kini berubah drastis. Pohon-pohon sawit kelihatan sudah tua dan sebagian mati. Di antara bangkai sawit yang lapuk dan menghitam, tanaman jagung sedang berbunga dan mengundang berbagai jenis lebah. Inilah kiranya bagian dari program pengembangan tanaman jagung yang dilakukan PTPN setelah mereka gagal memetik keuntungan dari mengelola sawit. Seperti diketahui, komoditas jagung hari ini sedang naik daun akibat satu kebijakan Amerika Serikat yang menggoncangkan distribusi jagung dunia. Eksportir jagung terbesar dunia itu tiba-tiba menghentikan seluruh pengeluaran jagung dari negaranya untuk memenuhi satu ambisi besar mereka, yakni lepas dari ketergantungan minyak pada negara lain, terutama dari negara-negara Timur Tengah, Venezuela, dan lain-lain. Program ini menemukan jagung sebagai komoditas penghasil bio gas (ethanol) paling menguntungkan, sehingga mereka mengalihkan seluruh bahan baku jagung di negaranya untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik penghasil ethanol. Akibat kebijakan ini, pasar dunia limbung. Berbagai industri makanan yang bersandar pada bahan baku jagung Amerika Serikat seketika kekurangan pasokan. Jagung langka. Harga pun merangkak naik. Dan kini negara-negara pertanian yang bisa menghasilkan jagung mulai memperhatikan komoditas ini. Beberapa PTPN yang beroperasi di Sumatera Utara termasuk di antara yang keranjingan menanam jagung. Pokoknya seperti lirik lagu anak-anak, “menanam jagung di kebun kita”. Setelah pemandangan jagung hilang, kami tiba di desa Talun Kenas. Tidak ada yang istimewa dari desa ini kecuali segelas es campur dingin yang kami temukan di pinggir jalan. Cuaca yang panas membuat jajanan sederhana ini menjadi spesial. Melewati Talun Kenas, jalan mulai mendaki. Cuaca berubah perlahan sesuai hukum ketinggian daratan bumi. Di depan rumah-rumah penduduk, saya menyaksikan orang-orang bermalasan, bercerita, dan berjuang menghabiskan rokok. Di kedai-kedai panggung, para lelaki membuang masa depannya sendiri. Mereka selalu menemukan topik yang tidak perlu untuk diceritakan secara berpanjang-panjang. Jelas sekali, nasib negara ini tak bisa dipercayakan pada mereka. Akhirnya kami menemukan satu hiburan kecil manakala melintasi desa Siguci. Sebuah plang pada gapura putih di sebelah kiri memberitahu bahwa ada lokasi pemandian dan air terjun sekitar 100 meter masuk ke dalam. Di sebelah plang itu, sebuah warung kecil sekaligus menjadi pusat informasi tak resmi bagi pengunjung. Soalnya, di pos gerbang masuk, tak ada siapa-siapa yang bisa ditanyai. Objek wisata yang dikelola pemerintah kabupaten Deliserdang ini bernama “Pemandian Alam dan Air Terjun Lau Sigembur”. Jalan masuk ke dalam hanya berupa jalan tanah curam dan berbatu yang akan berubah licin pada musim hujan. Dari atas, kami mendengar gemuruh air terjun dan gemericik sungai melintasi batu-batu. Sebelum menyaksikan atraksi sesungguhnya, beberapa pondok kecil menyambut tamu. Karena bukan hari libur, tidak banyak pengunjung hari ini. “Parkir di sini saja, Bang!” sapa seorang perempuan sambil mengucek matanya yang perih terkena asap warung. Lokasi di sekitar pondok ini sebenarnya indah sekali. Masih ada sisa hutan dan pohon-pohon tua yang menyejukkan. Dibanding pemandian alam Sibiru-biru, Lau Sigembur masih lebih terjaga. Pondok-pondok belum begitu rapat. Paling banyak hanya belasan unit dan tidak permanen. Sayangnya, pengelolaan sungai ini ditangani langsung oleh pemerintah sehingga hasilnya sangat gampang ditebak. Berbagai bangunan warung didirikan tanpa selera dan tanpa tema yang kuat. Mereka sepertinya dibiarkan membangun kawasan kumuh, kelihatan miskin, lengkap dengan lagu dangdut dan perempuan-perempuan yang lebih mirip PSK murahan. Kami ditagih jasa parkir sebesar Rp 5.000 dengan memberikan karcis senilai Rp 2.000. Busyet, busyet! Lau Sigembur adalah sungai berkarakter bebatuan, tidak berpasir dan masih berhutan di pinggirnya. Jarak antara hutan dan sungai dihiasi oleh dinding andesit setinggi belasan meter. Di dinding inilah air terjun utama mengalir dengan abadi seraya memberi warna dan bentuk pada batu-batu yang dilaluinya. Merenungi keindahan sungai dan air terjun Lau Sigembur, saya jadi terpikir mengapa orang terlalu menangisi Bukit Lawang yang kini kehilangan daya pikatnya. Mengapa kekayaan yang begitu dekat dari kota Medan ini disia-siakan saja? *** Setelah desa Kuta Jurung, jalan mulai berkelok-kelok sampai membuat saya menahan napas. Rumpun-rumpun bambu di kiri kanan jalan memberi hawa sejuk. Meski jalan ini agak sempit, tapi dua mobil masih bisa berpapasan, asal hati-hati. Kondisi aspalnya mulus karena baru diperbaiki. Setengah jam kemudian kami sudah sampai di desa Tiga Juhar. Tidak ada gunanya berlama-lama di desa yang sekaligus menjadi pasar pekanan ini. Jorok, semrawut dan bau karet. Setelah Tiga Juhar tertinggal di punggung kami, jalan makin tidak stabil karena menurun dan menanjak. Kebun-kebun penduduk berselang-seling dengan hutan-hutan sekunder. Lapisan Bukit Barisan pun makin jelas di depan. Gugusan dataran tinggi yang menyatukan pulau Sumatera itu memang selalu enak dipandang. Kabut yang menutupi puncak-puncak gunung bagaikan tirai kelambu yang ditelingkupkan para bidadari dari langit. Dan gundukan Bukit Barisan selalu saya bayangkan sebagai bayi yang tertidur pulas di peraduannya. Ah, saya sangat bangga menjadi orang Sumatera. Pada sebuah desa di perbukitan, kami tertegun oleh satu pemandangan menarik di pinggir jalan. Parit jalan di sebelah kiri mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat. Sebuah pancuran kecil yang berasal dari suatu tempat membawa air hangat. Tanah yang dilewati air pancuran itu menampakkan warna-warna dan lapisan kerak yang rapuh. Air ini pasti mengandung belerang yang tinggi. Buktinya, selembar daun pisang yang masih hijau sudah tertutup kerak tebal. Iseng-iseng, saya merendam tangan di bawah pancuran itu. Ya ampun, rasanya seperti diremas oleh kehangatan yang menenangkan. Penasaran dengan sumber air panas bumi ini, saya menelusuri tali air yang melewati rumah penduduk dan mengarah ke sebuah bukit. Semakin ke atas, saya menemukan semakin banyak tali-tali air kecil yang memberi jalan pada air belerang. Tali-tali air itu kelihatan sengaja dibuat oleh penduduk agar mengalir ke arah rumah mereka untuk tempat pemandian dan MCK. Saya tidak tahu apakah mereka juga menggunakannya untuk air minum. Setelah melewati areal kebun sawit dan semak-semak, tiba-tiba sebuah dataran yang lapang terpampang di atas bukit kecil. Semua tali air itu berhulu di sini. Di depan saya, terbentang satu pemandangan yang sukar dipercaya. Bagaimana mungkin di atas bukit kecil ini terdapat danau biru seluas kira-kira satu hektar. Danau itu dikelilingi pohon-pohon beringin yang akarnya menghunjam ke air. Inilah rupanya sumber air panas itu. Saya buru-buru mendatangi dua lelaki yang sedang berbincang-bincang di pinggir danau, lalu menanyakan beberapa hal pada mereka. Saking takjubnya, saya malah hampir lupa menanyakan nama danau itu. Barulah ketika mau berbalik, saya menyadari kebodohan yang hampir saja kulakukan, dan kembali lagi menanyakan mereka nama danau ini. “Namanya danau Linting,” kata salah seorang di antara mereka, dan tentu saja membuat saya kaget. Pantas! Inilah rupanya tujuan utama kami itu. Kulepaskan napas, lalu duduk di salah satu juluran akar beringin. Kicauan burung terdengar begitu ramai. Hewan-hewan kecil itu menikmati buah-buah beringin yang memerah. Dari puncak bukit di pinggir danau ini, saya bisa melepaskan pandangan ke berbagai arah. Lokasi danau Linting adalah sebuah tempat yang sangat romantis. Saya tak puas-puas memandangi permukaan danau Linting yang biru pekat seperti laut berkedalaman ratusan meter. Kebiruannya bahkan mengalahkan warna Danau Toba di bagian terdalam. Tidak ada penduduk yang berani menduga dasar danau ini. “Memang ada yang pernah mencoba mengukurnya, tapi tidak bisa juga. Dalam sekali,” kata seorang penduduk. Mereka juga mengingatkan agar kami hati-hati karena danau ini sudah beberapa kali menelan korban. Karena berkembangnya cerita mistik seputar danau dan cerita kedalamannya yang terselimut misteri, kini jarang sekali orang berani mandi dan berenang di danau. Kami menduga, danau ini dulunya adalah kawah atau retakan akibat peristiwa vulkanik. Kandungan belerangnya yang tinggi dan kedalamannya menjadi alasan untuk menduga hal itu. Saya mencoba berkeliling untuk menikmati setiap sisi danau. Kebetulan, masyarakat sudah merintis jalan setapak yang menjadi jalan lingkar danau. Di antara akar sebuah pohon beringin, mereka membuat tempat sesajen. Lalu, pada bagian lain, ada semacam lapangan yang digunakan untuk semacam camping ground, masak-masak, dan berteduh. Sayangnya, para pengunjung suka membuat api di dekat pohon, sehingga batang dan akarnya terbakar. Danau ini akan tetap indah bila kawasan di sekitarnya dibiarkan lestari. Hutan di sekitar danau akan menjamin harmoni kehidupan, seperti kelangsungan hidup burung-burung, pohon-pohon tua yang eksotis, dan pinggiran danau yang tidak mengalami erosi. Tapi sampai hari ini belum ada upaya konservasi serius dari pemerintah dan masyarakat setempat, kecuali membuat sebuah plang berisi larangan mengusahai lahan dalam radius 100 meter dari pinggir danau. Larangan itu pun tidak pernah dipatuhi warga. Mereka menanam sawit hanya 5 meter dari danau. Negeri ini memang selalu bermasalah dengan manusianya yang berselera rendah dan bodoh. *** Danau Linting hanya berjarak 49 km dari Medan. Anda tak perlu ragu membawa kendaraan sendiri karena jalannya cukup bagus. Konon, jalan ini termasuk dalam proyeksi pelebaran untuk menghubungkan Seribu Dolok dengan Lubuk Pakam dalam rangka proyek agropolitan di Sumatera Utara. Bila ingin iseng melanjutkan perjalanan dari danau Linting ke arah Simalungun, maka desa selanjutnya yang akan ditemui adalah desa Durian Tinggung. Ada satu alasan yang cukup kuat agar Anda melengkapi perjalanan ke desa ini, yakni keberadaan sebuah titi gantung terpanjang di Sumut yang menghubungkan Deliserdang dan Simalungun. Mereka menyebutnya Titi Gantung STM Hulu. Sarana perhubungan sepanjang kira-kira 150 meter ini dibangun pada tahun 1982 dan melewati lembah sedalam kira-kira 200 meter. Di bawahnya, sungai mengalir deras di sela batu-batu hitam dan keras. Melihat panorama lembah yang berhutan lebat dari atas titi gantung, kita seperti disuguhi bird eye view yang luar biasa. Pada beberapa tempat, aliran sungai kelihatan seperti busa, tapi pada bagian lain hilang tertelan hutan yang lebat. Jauh ke arah hulu, panorama bukit dan hutan kelihatan berlapis-lapis. Titi gantung STM Hulu dilewati oleh mobil-mobil angkutan penumpang empat roda dengan bak terbuka. Untuk mengurangi beban, biasanya jumlah penumpang dikurangi begitu melintasi titi. Soalnya risiko buruk bisa saja terjadi sewaktu-waktu, karena daya tahan jembatan terasa sangat spekulatif. Bagian lantai jembatan terkadang jebol karena lapuk. Apalagi, truk-truk kecil pengangkut kayu sering sekali nekat melewati jembatan ini dan membuat kerusakan pada beberapa lantai kayu. Saya sendiri mencoba berdiri di tengah jembatan dan menatap ke arah bawah. Jujur saja, lutut saya gemetar, dan tiba-tiba jembatan bergoyang seperti dihantam gempa. Oh, rupanya bukan karena lutut saya, tapi ada pengendara sepeda motor yang mau lewat! teks oleh tikwan raya siregar foto oleh putra perwira
A A A
Pariwisata - Minggu, 14 Agt 2011 00:03 WIB

(analisa/amirul khair) Pemandangan hamparan Danau Linting dengan airnya yang membiru.

Oleh: Amirul Khair. Masyarakat Sumatera Utara (Sumut) masih banyak bahkan terlalu banyak yang belum mendengar apalagi melihat langsung danau ini. Bila Danau Toba sudah begitu mendunia sebagai salah satu keajaiban dunia yang menjadi daaerah tujuan wisata bagi wisatawan mancanegara, tidak bagi Danau Linting.

Danau Linting masih begitu asing. Maklum, obyek wisata ini hanya memiliki luas sekira 1 hektar terletak di 3 desa, yakni Sibunga-bunga, Durian IV Mbelang dan Gunung Manumpak, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deliserdang. (Danau ini memiliki kekhasan karena berada di perbatasan 3 desa di atas).


Selain itu, pengelolaannya belum maksimal karena belum memiliki tata ruang pengembangan yang profesional dan masih jauh dari dukungan penunjang lainnya seperti, infrastruktur jalan yang masih belum nyaman untuk dilintasi, fasilitas peristirahatan termasuk wadah untuk bercanda ria berkecipak di airnya yang mengandung belerang.


Bisa dibayangkan, perjalanan kami mulai titik Kota Lubukpakam sebagai pusat kota Deliserdang sampai melewati Pagarmerbau, dan Galang terasa santai. Namun begitu mulai masuk Simpang Tiga Juhar yang berada di Kecamatan Bangunpurba, isi perut seperti mau keluar ditambah liku-liku jalan dengan jurang menganga siap menampung jika pengendara tidak hati-hati.


Jika dihitung secara cermat, tapi terasa muak untuk menghitung satu demi satu lobang yang mengusik kenyamanan perjalanan. Terlebih bagi pengendara mobil, sulit rasanya mendapatkan kesempataan untuk menekan pedal gas melaju dengan kecepatan tinggi.


Jika bukan karena jalannya yang meliuk dengan barisan jurang di tepiannya, laju kenderaan bakal terganggu dengan pajangan lobang di badan jalan. Sekali lagi, isi perut serasa mau demo untuk muncrat keluar.


Wajar pula obyek wisata Danau Linting belum menjadi pilihan banyak orang sebagai daerah tujuan wisata (DTW) karena memang untuk sampai ke sana harus mempertaruhkan rasa kenyamanan saat berlalulintas di atas pacuan jalan yang masih banyak dalam keadaan rusak.


Keajaiban


Tidak ada yang unik dan istimewa ketika Penulis dan dua orang teman sampai di depan jalan menanjak sepanjang sekira 200 meter yang kondisinya, lagi-lagi rusak berat untuk sampai ke Danau Linting. Sepeda motor pun harus pasang gigi satu supaya mampu melintasi jalan menanjak yang rusak tersebut.


Batu cadas yang hidup di dalam danau yang dapat mengancam keberadaan Danau Linting di masa mendatang.

Satu-satunya keunikan saat hendak menanjak hanyalah saluran air yang sedikit terasa hangat dengan balutan bau belerang. Saluran tersebut sengaja dibuat untuk tempat pembuangan air bersumber dari Danau Linting yang berada di atasnya yang airnya tak pernah surut.


Setelah melintas tanjakan dengan hamparan batu berserakan, Kami pun tiba tepat di areal Danau Linting yang menawarkan kebiruan airnya. Uniknya, beberapa orang yang ditanya tentang warna air danau tersebut, ada yaang mengatakan biru dan ada pula yang mengatakan hijau.


Terserahlah. Mungkin ini salah satu keajaiban yang dimiliki Danau Linting sehingga pengunjungnya pun berbeda menilai warna airnya. Sunyi dan lengang saat kami sampai di danau tersebut. Maklum, kami berkunjung tepat pada hari Sabtu di saat aktivitas masih berlangsung terutama proses belajar dan mengajar.


Hanya beberapa pelajar dengan masih mengenakan seragam sekolah, dari pakaiannya mereka pelajar STM, terlihat asyik mandi dan berenang di tepian danau tersebut. Di sudut lainnya hanya terlihat sekira 4 orang penduduk setempat sedang asyik menyulut rokok sembari menghembuskannya sehingga membentuk gulungan asap di bawah rindang pepohonan raksasa yang daunnya mencurut ke arah danau.


Penulis terperangah menyaksikan keindahannya. Mungkin karena baru sekali melihat dan selama ini hanya melihat fotonya saja. Penulis menyadari, warna airnya terkadang berubah warna. Saat menyaksikan dengan posisi horizontal, airnya terlihat berwarna biru dan saat mengintipnya dengan posisi vertikal ke bawah, warnanya seakan menghijau.


Salah satu keajaiban Danau Linting adalah kemisteriusannya yang sampai saat ini belum terungkap. Belum ada satu orang maupun lembaga termasuk pemerintah yang dapat memastikan kedalaman danau yang tepian permukaannya diselimuti gumpalan belerang.

Awal Tarigan, salah seorang warga yang Penulis hampiri mengatakan, pernah ada yang mencoba menggunakan benang diikatkan dengan batu dan dimasukkan ke danau. Sampai habis gulungan benang sampai sekitar 3 tungkul, ke dalamannya juga belum sampai ke dasar danau. Dan belum ada yang berani menyelami langsung kedalaman danau ini.


Sisi lain keajaiban Danau Linting, yakni airnya tak pernah kering. Airnya terus bertambah dari mata air yang kata masyarakat setempat terlihat hanya di waktu pagi. Karenanya, salah satu titik tepian danau yang dikeliling batu cadas tersebut dijadikan tempat untuk mengalirkan air keluar bersumber dari kawasan danau.


Bau belerang terasa lebih menyengat di sore hari. Airnya disebut-sebut bisa mengobati berbagai penyakit kulit sehingga banyak pula orang sengaja datang ke danau ini hanya untuk merendam diri dan membawa airnya pulang ke rumah.


Terancam


Keindahan Danau Linting dengan keajaibannya merupakan kebanggaan masyarakat Sumatera Utara khususnya Deliserdang. Aset potensial ini harus dilestarikan agar tidak rusak dan hilang. Pasalnya, keberadaan Danau Linting ini terancam mengecil bahkan bisa hilang ditelan bumi.


Konon menurut orang-orang tua sekitar, ungkap Awal Tarigan, luas Danau Linting tidak seperti sekarang ini. Luasnya lebih dari yang sekarang. Kata orang-orang tua dulu, pinggir danaunya bukan di dini. Sampai ke pohon itu ujar Awal Tarigan sembari menunjuk sebuah pohon besar yang bertengger gagah sekira 10 meter dari tepian danau tempat kami bercengkrama.


Penjelasan ini agak logika. Pasalnya, Danau Linting ini dikelilingi batu cadas yang hari ke hari turut membesar sehingga kemungkinan menjorok ke dalam danau. Fakta ini turut didukung dengan informasi bahwa bagian bawah danau tersebut membentuk lekukan.


Sehingga orang yang berdiri di tepian danau berjarak sekira 10 meter dari bibir danau sebenarnya masih berdiri di atas air danau akibat membesarnya batu cadas. Dan jika ini benar, maka puluhan atau ratusan tahun ayang akan datang, Danau Linting bisa saja mengecil dan hilang dari bumi Deliserdang


Benar atau tidaknya, pastinya perlu diteliti kembali oleh para pakar-pakar dan tentunya perhatian pemerintah harus terusik dengan adanya ancaman seperti ini. Jangan sampai keajaiban dan keindahan Danau Linting ini rusak apalagi sirna dari bumi Deliserdang.


Sangatlah berdosa kita kepada anak cucu dimasa mendatang yang bakal tidak bisa menyaksikan dan menikmati keindahan alam Danau Linting ini jika salah satu keajaiban dunia ini rusak dan menghilang. •••

KISAH MISTERI GUA KEMANG (GUA UMANG)


GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGA
Batu Kemang Si bolangit Juni. 1906.
Sebongkah batu besar berdiri kokoh di atas sebidang tanah. Ada yang istimewa dari batu ini, ada pintu dan ruangan di dalamnya. Masyarakat setempat meyakininya sebagai rumah Umang, orang Bunian di Tanah Karo. Dahulu kala, terdapatlah sebuah kampung kecil di salah satu daerah di Tanah Karo. Kampung Uruk Rambuten, begitu masyarakat setempat menyebutnya. Hanya beberapa keluarga saja yang tinggal di sana. Rumah-rumah mereka mengelilingi sebuah pohon beringin besar. Kampung tersebut memang perkampungan kecil yang hanya dihuni marga Ketaren.


Alkisah, hiduplah seorang peladang di kampung tersebut. Dia biasa dipanggil Opung (kakek) Ketaren. Sebagai seorang peladang, Opung mau membuka hutan yang masih berada tidak jauh dari kawasan perkampungan untuk dijadikan lahan bercocok tanam.
Dalam perjalanan menuju lokasi tersebut, Opung bertemu dengan sesosok mahkluk bertubuh kecil dengan kakinya terbalik. Tumitnya menghadap ke depan dan jari kakinya ke belakang. Orang-orang menyebutnya Umang.

“Mau kemana?” Umang bertanya pada Opung. Opung menjelaskan bahwa dia mau membuka hutan untuk berladang padi. Umang pun menawarkan bantuan kepada Opung, dengan syarat Opung tidak boleh membawa perempuan dan anak kecil ke ladangnya. Opung menyanggupinya, walaupun dia sendiri punya seorang istri yang baru saja melahirkan.

Akhir kata, Umang dan kawan-kawannya membantu Opung membuka hutan. Dalam satu hari, lahan seluas tiga hektar selesai dibersihkan dan siap untuk ditanam. Sebelum senja, Opung kembali ke rumahnya. Di rumah, dia mengatakan kepada istrinya, bahwa lahan untuk ladang sudah selesai dibuka, dan besok dia akan mulai menanam padi. Dia juga meminta istrinya untuk menyiapkan benih padi yang akan ditanam besok.
Sang istri pun heran, bagaimana bisa lahan seluas tiga hektar dapat diselesaikan suaminya dalam waktu hanya satu hari. Dengan hati bertanya-tanya, dia tetap menyiapkan benih padi yang akan ditanam.

Keesokan harinya, Opung sudah berada kembali di ladangnya dengan membawa benih padi yang akan ditanam. Namun tak disangka, Umang marah padanya karena dia telah mengingkari janji. Opung sama sekali tidak mengerti kenapa Umang bisa menuduhnya seperti itu. Padahal dia tidak pernah membawa perempuan atau anak kecil ke ladangnya. Tiba-tiba saja, istri dan anak Opung sudah berada di belakangnya. Ternyata, istri Opung diam-diam mengikutinya karena rasa penasaran yang tak tertahankan. Perjanjian Opung dengan Umang pun batal. Semuanya berubah menjadi hutan kembali seperti sedia kala. Mendapati itu, Opung marah besar. Namun apa daya, nasi sudah jadi bubur.

Besoknya, Opung kembali membuka hutan tersebut untuk dijadikan ladang padi. Selama berhari-hari akhirnya Opung pun berhasil membersihkannya. Ketika itulah ditemukan batu besar yang disebut Gua Kemang. Hingga saat ini, batu besar tersebut diyakini oleh masyarakat setempat sebagai rumah Umang yang pernah membantu Opung.

Cerita Mistik Gua Kemang

GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGA
Batu Kemang Si bolangit Juni. 1906.
   Umang” merupakan bahasa Karo yang berarti jin atau roh. Seperti diceritakan oleh Tolen Ketaren, fisik dari Umang seperti manusia, tapi lebih kecil. Bedanya lagi, kalau berjalan, kakinya terbalik, tumitnya menghadap ke depan sedangkan jari-jari kakinya ke arah belakang. “Itu kata orang yang sudah pernah melihatnya. Seperti orang bunian,” jelas Tolen setelah menceritakan kisah asal muasal Gua Kemang yang dipercayai masyarakat setempat. Sekitar tahun 1970-an, menurut Tolen, masyarakat masih sering bertemu dengan Umang. Bahkan ada juga masyarakat yang dibawa ke hutan oleh Umang. “Tapi kalau balik, ada kurang-kurangnya,” ujar pria yang pernah menjadi Kepala Desa Sembahe pada 2001-2007 ini. Dulunya, Gua Kemang yang diyakini sebagai rumah Umang ini dikenal juga dengan nama Gua Umang. Karena mistis, banyak orang yang bertapa dan membawa sesajen ke sana. Bahkan dulu, setiap orang yang lewat di daerah Sembahe, selalu singgah dan menyembah batu ini. “Makanya dibilang Sembahe. Asal kata dari ‘semba e’, sembah ini. Sembahe dulu di kampung itu,” jelas Tolen.

Dulu gua batu ini juga bisa tiba-tiba menghilang, raib entah kemana. Menurut keyakinan masyarakat di sana, hal itu berarti ada Umang yang menempatinya. “Kadang nampak batunya, kadang tidak. Kata orang, kalau umangnya sudah pergi, baru nampak batunya,” ujar Tolen. Seperti dikisahkan Tolen lagi, menurut cerita dari orang-orang tua di sana, terdapat jalan bawah tanah dari Gua Kemang menuju sebuah batu besar lainnya. “Secara magis, ada jalan bawah tanah dari gua batu itu ke Batu Penjemuren, tempat jemuran padi si Umang,” cerita bapak berusia 46 tahun tersebut. Batu Penjemuren sendiri merupakan batu besar dengan bagian atasnya yang datar. Batu ini berada di pinggir Sungai Sembahe, sekitar satu kilometer dari Gua Kemang. Namun jalan bawah tanah tersebut tidak pernah ditemui oleh Tolen.

Gua batu yang ditemukan oleh masyarakat setempat pada zaman penjajahan Belanda ini, pernah hendak diangkat untuk dipindahkan ke Belanda. Tetapi tidak bisa dipindahkan. Tolen sendiri pun tidak tahu kenapa gua batu ini tidak bisa diangkat. Mungkin ada kaitannya juga dengan kekuatan magisnya. Sebagian masyarakat meyakini bahwa hingga saat ini kadang-kadang masih ada yang menghuni gua batu tersebut. “Konon, sekarang masih ada penghuninya,” kata Hendri, pemuda setempat yang menemani saya menuju lokasi Gua Kemang. Kampung Uruk Rambuten yang dianggap sebagai awal Desa Sembahe, sampai saat ini masih dikenali. Namun tak ada lagi penduduk yang menghuni kampung tersebut. Kampung Uruk Rambuten berada di dekat lokasi jatuhnya pesawat Garuda Indonesia pada 26 September 1997 lalu. Menurut Tolen, ada kemungkinan pesawat tersebut jatuh karena tersangkut pohon beringin besar yang tumbuh di tengah-tengah kampung Uruk Rambuten.

Situs Budaya yang Terbengkalai

GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGA
   Gua Kemang berlokasi di Kampung Durintani, Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang. Tepatnya berada di lahan perkebunan seorang penduduk yang juga bermarga Ketaren. Untuk menuju lokasi gua batu ini, kita dapat berjalan kaki sejauh satu kilometer dari simpang Durintani, arah kanan dari Medan. Tidak susah menemukan simpang Durintani. Ada sebuah plang dari semen yang terdapat di simpang tersebut. “Situs Gua Kemang (Gua Batu), Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, Proyek Pembinaan Kebudayaan APBD Tingkat I Sumatera Utara,” itulah yang tertulis di sana. Ternyata gua batu yang diyakini oleh para arkeolog sebagai peninggalan manusia pra sejarah ini sudah menjadi salah satu situs budaya milik pemerintah.
Jalan aspal mengawali perjalanan menuju gua batu. Namun separuh jalan setelahnya kita terpaksa melewati jalanan berbatu yang sedikit menanjak. Cukup menguras keringat juga. Apalagi mengingat kondisi tubuh saya yang sudah lama tak pernah berolahraga. Terasa cukup lama juga kami berjalan kaki, mungkin lebih setengah jam. Akhirnya pintu masuk menuju gua batu ini sudah berada di depan mata. Namun sebuah kondisi yang cukup mengiris hati akhirnya menyambut kami. Pagar dan tembok yang menjaga situs budaya ini sudah berlumut. Begitu pun tangga yang akan mengantar kami hingga ke atas, di mana gua batu berada. Ukiran yang tertulis di tembok pagar sudah hampir tak terbaca akibat lumut yang begitu tebal. “Pernah dibangun parkir dan jalannya oleh Kanwil Depdikbud tahun 75-an. Namun tidak berkembang,” ujar Tolen seakan-akan mengerti pertanyaan yang muncul di benak kami.

Kami pun melanjutkan sisa-sisa perjalanan, menempuh puluhan tangga hingga sampai ke lokasi Gua Kemang yang berada di bagian atas kebun. Kondisi gua ternyata tak jauh beda dengan apa yang kami jumpai sebelumnya. Lumut tebal menyelimuti dinding luarnya. Dua relief serupa manusia yang diyakini sebagai bentuk sosok Umang tersebut tak lagi terlihat jelas.“Dulu batu ini besar. Ada batu-batu lain juga di sekitar gua. Batu-batunya seperti meja, kursi, tapi dirusak Belanda. Ada yang dibuang, ada yang dimasuki ke kantong plastik. Tapi tidak tau yang mana yang diambil,” cerita Tolen menjelaskan lagi tentang Gua Kemang yang berada di bawah sebuah pohon rambe, sejenis pohon langsat.


GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGADi bagian depan gua, ada lobang kecil berukuran sekitar 50 x 50 cm dengan pahatan berbentuk segitiga di bagian atasnya. Semacam pintu bagi rumah Umang. Di dalam gua hanya terdapat satu chamber berukuran sekitar 3 x 2 meter dengan tinggi sekitar satu meter. Bagian atas dalam gua mirip dengan atap rumah biasa, mengerucut ke atasnya.

Di sisi kanan dan kiri dalam gua, ada dua undakan, seperti tempat tidur. Sedangkan di sebelah kanan ada ruangan kecil memanjang. “Mungkin dapurnya Umang,” ujar Hendri. Atau mungkin tempat tidurnya bayi Umang?

GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGASelain itu, terdapat juga ukiran-ukiran serupa tulisan Arab di dalam gua di bagian atas pintu. Menurut Tolen, mungkin saja itu tulisan Karo, karena jika dilihat dari bentuknya, tulisan Karo hampir mirip dengan bentuk tulisan Arab. Namun tidak jelas juga kepastiannya karena di beberapa bagian dinding dalam gua juga banyak coretan-coretan manusia yang iseng mengukir namanya di sana. Rusaklah sudah!
Namun yang paling perlu diperhatikan di sini adalah kondisi Gua Kemang. Cukup memprihatinkan, mengingat gua ini pernah dijadikan sebagai salah satu situs budaya di Sumatera Utara. Jika pemerintah sekarang tak mengindahkan ini, bisa saja Gua Kemang benar-benar akan hilang untuk selamanya.
(Sumber : Insidesumatera,stmik neuman,friantonaibaho.blogspot.com)

Cerita terkait:
·        Asal Usul Nama Gunung Sibayak 
·        Asal Mula Danau Lau Kawar 
·        Beru Ginting Sope Mbelin
·        Misteri Gunung Sibayak 

MENGUAK MISTERI BEGU GANJANG

cerita rakyat,karo, suku karo, lima marga, begu ganjang, begu.

Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di tanah karo, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal-usul dan makna kata tersebut. 

Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku karo sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Karo (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa dalam diri orang karo jaman dulu, telah terdapat konsep tentang keagamaan, yang walaupun orang karo sendiri belum menyadarinya sebagai manifestasi keagamaan.

Selanjutnya, masyarakat karo percaya, disamping para Dibata masih ada kekuatan lain yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Malah baik buruknya hidup manusia tergantung pada respon yang diberikan pada kekuatan dan tenaga ini. Mereka itulah yang disebut dengan tendi dan begu.

Tendi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tendi. Tendii memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama-lamanya dan tidak dapat dirusak oleh apapun. Orang karo jaman dulu mengenal dua jenis tendi, yaitu: tendi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja. Kedua, tendi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, manusia secara biologis mungkin telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tendi nya.

Kehadiran tendi dalam tubuh manusia merupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya sesuatu penyakit, kegelisahan, atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tendi, atau kepergian tendi dari tubuh manusia. Bila kepergian tendi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tendi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian.

Demikian ulasan singkat mengenai paham orang karo tentang begu dalam konteks ‘pneumatologi’ Batak karo tradisional. Sehubungan dengan begu ganjang yang diyakini sebagai personifikasi bagi segala jenis roh-roh yang mampu membuat orang meninggal secara mendadak, segera muncul pertanyaan berikut: Adakah gejala dan isu begu ganjang yang sempat hangat di tanah karo sebetulnya hanya merupakan gejala menularnya berbagai jenis penyakit membahayakan yang tentu saja dapat merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat? Kalau memang itu, cara mengatasinya adalah menggalakkan pengobatan secara medis, bukan dengan menuduh dan membinasakan orang yang diduga memiliki dan memelihara begu ganjang.
(Si Pesikap Kuta Kemulihenta.blogspot.com)


Cerita terkait:
·        Putri Hijau 
·        Cincin Pinta Pinta 
·        Asal Mula Danau Lau Kawar 
·        Misteri Gunung Sibayak 

LIMA MARGA: KISAH MISTERI GUA KEMANG (GUA UMANG)

LIMA MARGA: KISAH MISTERI GUA KEMANG (GUA UMANG): Batu Kemang Si bolangit Juni. 1906. Sebongkah batu besar berdiri kokoh di atas sebidang tanah. Ada yang istimewa dari batu ini, ada ...

Sabtu, 30 Juni 2012

MP3


View Profile
Create a playlist at MixPod.com
PlaylistMusic