Home  Perjalanan  Menebak Misteri Kedalaman Danau Kamis, 6 November 2008 | 12:31:55 Menebak Misteri Kedalaman Danau Linting
Sungguh, saya baru mendengar nama danau ini beberapa hari lalu. Itu pun secara tidak sengaja ketika berbincang-bincang dengan Pak Soekirman, Wakil Bupati Sergai, di rumahnya. “Saya pun baru melihatnya lewat foto. Belum pernah ke sana. Tapi indah sekali kelihatannya,” katanya.
Kami lantas mengubernya. Inilah Danau Linting, sebuah keajaiban di puncak bukit kecil di desa Sibunga-bunga Hilir, Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Dari kota Medan, kami menempuh perjalanan selama 1 jam 45 menit, melewati Simpang Terminal Amplas, Patumbak, desa Talun Kenas, desa Siguci, desa Kuta Jurung, hingga akhirnya sampai ke bibir desa Sibunga-bunga Hilir.
Rute antar desa ini cukup menyenangkan karena saya mendapatkan beberapa hal baru. Pemandangan pertama adalah panorama perkebunan PTPN II Patumbak yang kini berubah drastis. Pohon-pohon sawit kelihatan sudah tua dan sebagian mati. Di antara bangkai sawit yang lapuk dan menghitam, tanaman jagung sedang berbunga dan mengundang berbagai jenis lebah. Inilah kiranya bagian dari program pengembangan tanaman jagung yang dilakukan PTPN setelah mereka gagal memetik keuntungan dari mengelola sawit.
Seperti diketahui, komoditas jagung hari ini sedang naik daun akibat satu kebijakan Amerika Serikat yang menggoncangkan distribusi jagung dunia. Eksportir jagung terbesar dunia itu tiba-tiba menghentikan seluruh pengeluaran jagung dari negaranya untuk memenuhi satu ambisi besar mereka, yakni lepas dari ketergantungan minyak pada negara lain, terutama dari negara-negara Timur Tengah, Venezuela, dan lain-lain. Program ini menemukan jagung sebagai komoditas penghasil bio gas (ethanol) paling menguntungkan, sehingga mereka mengalihkan seluruh bahan baku jagung di negaranya untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik penghasil ethanol.
Akibat kebijakan ini, pasar dunia limbung. Berbagai industri makanan yang bersandar pada bahan baku jagung Amerika Serikat seketika kekurangan pasokan. Jagung langka. Harga pun merangkak naik. Dan kini negara-negara pertanian yang bisa menghasilkan jagung mulai memperhatikan komoditas ini. Beberapa PTPN yang beroperasi di Sumatera Utara termasuk di antara yang keranjingan menanam jagung. Pokoknya seperti lirik lagu anak-anak, “menanam jagung di kebun kita”.
Setelah pemandangan jagung hilang, kami tiba di desa Talun Kenas. Tidak ada yang istimewa dari desa ini kecuali segelas es campur dingin yang kami temukan di pinggir jalan. Cuaca yang panas membuat jajanan sederhana ini menjadi spesial.
Melewati Talun Kenas, jalan mulai mendaki. Cuaca berubah perlahan sesuai hukum ketinggian daratan bumi. Di depan rumah-rumah penduduk, saya menyaksikan orang-orang bermalasan, bercerita, dan berjuang menghabiskan rokok. Di kedai-kedai panggung, para lelaki membuang masa depannya sendiri. Mereka selalu menemukan topik yang tidak perlu untuk diceritakan secara berpanjang-panjang. Jelas sekali, nasib negara ini tak bisa dipercayakan pada mereka.
Akhirnya kami menemukan satu hiburan kecil manakala melintasi desa Siguci. Sebuah plang pada gapura putih di sebelah kiri memberitahu bahwa ada lokasi pemandian dan air terjun sekitar 100 meter masuk ke dalam. Di sebelah plang itu, sebuah warung kecil sekaligus menjadi pusat informasi tak resmi bagi pengunjung. Soalnya, di pos gerbang masuk, tak ada siapa-siapa yang bisa ditanyai.
Objek wisata yang dikelola pemerintah kabupaten Deliserdang ini bernama “Pemandian Alam dan Air Terjun Lau Sigembur”. Jalan masuk ke dalam hanya berupa jalan tanah curam dan berbatu yang akan berubah licin pada musim hujan. Dari atas, kami mendengar gemuruh air terjun dan gemericik sungai melintasi batu-batu. Sebelum menyaksikan atraksi sesungguhnya, beberapa pondok kecil menyambut tamu. Karena bukan hari libur, tidak banyak pengunjung hari ini. “Parkir di sini saja, Bang!” sapa seorang perempuan sambil mengucek matanya yang perih terkena asap warung.
Lokasi di sekitar pondok ini sebenarnya indah sekali. Masih ada sisa hutan dan pohon-pohon tua yang menyejukkan. Dibanding pemandian alam Sibiru-biru, Lau Sigembur masih lebih terjaga. Pondok-pondok belum begitu rapat. Paling banyak hanya belasan unit dan tidak permanen. Sayangnya, pengelolaan sungai ini ditangani langsung oleh pemerintah sehingga hasilnya sangat gampang ditebak. Berbagai bangunan warung didirikan tanpa selera dan tanpa tema yang kuat. Mereka sepertinya dibiarkan membangun kawasan kumuh, kelihatan miskin, lengkap dengan lagu dangdut dan perempuan-perempuan yang lebih mirip PSK murahan. Kami ditagih jasa parkir sebesar Rp 5.000 dengan memberikan karcis senilai Rp 2.000. Busyet, busyet!
Lau Sigembur adalah sungai berkarakter bebatuan, tidak berpasir dan masih berhutan di pinggirnya. Jarak antara hutan dan sungai dihiasi oleh dinding andesit setinggi belasan meter. Di dinding inilah air terjun utama mengalir dengan abadi seraya memberi warna dan bentuk pada batu-batu yang dilaluinya. Merenungi keindahan sungai dan air terjun Lau Sigembur, saya jadi terpikir mengapa orang terlalu menangisi Bukit Lawang yang kini kehilangan daya pikatnya. Mengapa kekayaan yang begitu dekat dari kota Medan ini disia-siakan saja?
***
Setelah desa Kuta Jurung, jalan mulai berkelok-kelok sampai membuat saya menahan napas. Rumpun-rumpun bambu di kiri kanan jalan memberi hawa sejuk. Meski jalan ini agak sempit, tapi dua mobil masih bisa berpapasan, asal hati-hati. Kondisi aspalnya mulus karena baru diperbaiki. Setengah jam kemudian kami sudah sampai di desa Tiga Juhar.
Tidak ada gunanya berlama-lama di desa yang sekaligus menjadi pasar pekanan ini. Jorok, semrawut dan bau karet.
Setelah Tiga Juhar tertinggal di punggung kami, jalan makin tidak stabil karena menurun dan menanjak. Kebun-kebun penduduk berselang-seling dengan hutan-hutan sekunder. Lapisan Bukit Barisan pun makin jelas di depan. Gugusan dataran tinggi yang menyatukan pulau Sumatera itu memang selalu enak dipandang. Kabut yang menutupi puncak-puncak gunung bagaikan tirai kelambu yang ditelingkupkan para bidadari dari langit. Dan gundukan Bukit Barisan selalu saya bayangkan sebagai bayi yang tertidur pulas di peraduannya. Ah, saya sangat bangga menjadi orang Sumatera.
Pada sebuah desa di perbukitan, kami tertegun oleh satu pemandangan menarik di pinggir jalan. Parit jalan di sebelah kiri mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat. Sebuah pancuran kecil yang berasal dari suatu tempat membawa air hangat. Tanah yang dilewati air pancuran itu menampakkan warna-warna dan lapisan kerak yang rapuh. Air ini pasti mengandung belerang yang tinggi. Buktinya, selembar daun pisang yang masih hijau sudah tertutup kerak tebal.
Iseng-iseng, saya merendam tangan di bawah pancuran itu. Ya ampun, rasanya seperti diremas oleh kehangatan yang menenangkan. Penasaran dengan sumber air panas bumi ini, saya menelusuri tali air yang melewati rumah penduduk dan mengarah ke sebuah bukit. Semakin ke atas, saya menemukan semakin banyak tali-tali air kecil yang memberi jalan pada air belerang. Tali-tali air itu kelihatan sengaja dibuat oleh penduduk agar mengalir ke arah rumah mereka untuk tempat pemandian dan MCK. Saya tidak tahu apakah mereka juga menggunakannya untuk air minum.
Setelah melewati areal kebun sawit dan semak-semak, tiba-tiba sebuah dataran yang lapang terpampang di atas bukit kecil. Semua tali air itu berhulu di sini. Di depan saya, terbentang satu pemandangan yang sukar dipercaya. Bagaimana mungkin di atas bukit kecil ini terdapat danau biru seluas kira-kira satu hektar. Danau itu dikelilingi pohon-pohon beringin yang akarnya menghunjam ke air. Inilah rupanya sumber air panas itu.
Saya buru-buru mendatangi dua lelaki yang sedang berbincang-bincang di pinggir danau, lalu menanyakan beberapa hal pada mereka. Saking takjubnya, saya malah hampir lupa menanyakan nama danau itu. Barulah ketika mau berbalik, saya menyadari kebodohan yang hampir saja kulakukan, dan kembali lagi menanyakan mereka nama danau ini.
“Namanya danau Linting,” kata salah seorang di antara mereka, dan tentu saja membuat saya kaget. Pantas! Inilah rupanya tujuan utama kami itu. Kulepaskan napas, lalu duduk di salah satu juluran akar beringin.
Kicauan burung terdengar begitu ramai. Hewan-hewan kecil itu menikmati buah-buah beringin yang memerah. Dari puncak bukit di pinggir danau ini, saya bisa melepaskan pandangan ke berbagai arah. Lokasi danau Linting adalah sebuah tempat yang sangat romantis.
Saya tak puas-puas memandangi permukaan danau Linting yang biru pekat seperti laut berkedalaman ratusan meter. Kebiruannya bahkan mengalahkan warna Danau Toba di bagian terdalam. Tidak ada penduduk yang berani menduga dasar danau ini. “Memang ada yang pernah mencoba mengukurnya, tapi tidak bisa juga. Dalam sekali,” kata seorang penduduk. Mereka juga mengingatkan agar kami hati-hati karena danau ini sudah beberapa kali menelan korban.
Karena berkembangnya cerita mistik seputar danau dan cerita kedalamannya yang terselimut misteri, kini jarang sekali orang berani mandi dan berenang di danau. Kami menduga, danau ini dulunya adalah kawah atau retakan akibat peristiwa vulkanik. Kandungan belerangnya yang tinggi dan kedalamannya menjadi alasan untuk menduga hal itu.
Saya mencoba berkeliling untuk menikmati setiap sisi danau. Kebetulan, masyarakat sudah merintis jalan setapak yang menjadi jalan lingkar danau. Di antara akar sebuah pohon beringin, mereka membuat tempat sesajen. Lalu, pada bagian lain, ada semacam lapangan yang digunakan untuk semacam camping ground, masak-masak, dan berteduh. Sayangnya, para pengunjung suka membuat api di dekat pohon, sehingga batang dan akarnya terbakar.
Danau ini akan tetap indah bila kawasan di sekitarnya dibiarkan lestari. Hutan di sekitar danau akan menjamin harmoni kehidupan, seperti kelangsungan hidup burung-burung, pohon-pohon tua yang eksotis, dan pinggiran danau yang tidak mengalami erosi. Tapi sampai hari ini belum ada upaya konservasi serius dari pemerintah dan masyarakat setempat, kecuali membuat sebuah plang berisi larangan mengusahai lahan dalam radius 100 meter dari pinggir danau. Larangan itu pun tidak pernah dipatuhi warga. Mereka menanam sawit hanya 5 meter dari danau. Negeri ini memang selalu bermasalah dengan manusianya yang berselera rendah dan bodoh.
***
Danau Linting hanya berjarak 49 km dari Medan. Anda tak perlu ragu membawa kendaraan sendiri karena jalannya cukup bagus. Konon, jalan ini termasuk dalam proyeksi pelebaran untuk menghubungkan Seribu Dolok dengan Lubuk Pakam dalam rangka proyek agropolitan di Sumatera Utara.
Bila ingin iseng melanjutkan perjalanan dari danau Linting ke arah Simalungun, maka desa selanjutnya yang akan ditemui adalah desa Durian Tinggung. Ada satu alasan yang cukup kuat agar Anda melengkapi perjalanan ke desa ini, yakni keberadaan sebuah titi gantung terpanjang di Sumut yang menghubungkan Deliserdang dan Simalungun.
Mereka menyebutnya Titi Gantung STM Hulu. Sarana perhubungan sepanjang kira-kira 150 meter ini dibangun pada tahun 1982 dan melewati lembah sedalam kira-kira 200 meter. Di bawahnya, sungai mengalir deras di sela batu-batu hitam dan keras. Melihat panorama lembah yang berhutan lebat dari atas titi gantung, kita seperti disuguhi bird eye view yang luar biasa. Pada beberapa tempat, aliran sungai kelihatan seperti busa, tapi pada bagian lain hilang tertelan hutan yang lebat. Jauh ke arah hulu, panorama bukit dan hutan kelihatan berlapis-lapis.
Titi gantung STM Hulu dilewati oleh mobil-mobil angkutan penumpang empat roda dengan bak terbuka. Untuk mengurangi beban, biasanya jumlah penumpang dikurangi begitu melintasi titi. Soalnya risiko buruk bisa saja terjadi sewaktu-waktu, karena daya tahan jembatan terasa sangat spekulatif. Bagian lantai jembatan terkadang jebol karena lapuk. Apalagi, truk-truk kecil pengangkut kayu sering sekali nekat melewati jembatan ini dan membuat kerusakan pada beberapa lantai kayu.
Saya sendiri mencoba berdiri di tengah jembatan dan menatap ke arah bawah. Jujur saja, lutut saya gemetar, dan tiba-tiba jembatan bergoyang seperti dihantam gempa. Oh, rupanya bukan karena lutut saya, tapi ada pengendara sepeda motor yang mau lewat!
teks oleh tikwan raya siregar
foto oleh putra perwira |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar